Jakarta, Newsline.id – Pukul sembilan pagi, lalu lintas mulai ramai di kawasan Pasar Cisalak, Depok. Di antara deretan kios dan kendaraan yang berlalu lalang, Yani sibuk melayani pembeli gorengan. Tangannya cekatan mengambil bakwan dan pisang goreng yang masih hangat dari wajan. Sabtu,(20/6/2026)
Sementara itu, sebuah kode QR terpajang di sisi gerobaknya. Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti itu mungkin sulit ditemukan. Seluruh transaksi dilakukan secara tunai.
Uang hasil penjualan bercampur dengan uang kebutuhan rumah tangga. Tidak ada catatan pemasukan maupun pengeluaran yang jelas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau dulu uangnya disimpan saja di kaleng bekas biskuit. Kadang habis, tapi saya tidak tahu dipakai untuk apa,” kata Yani sambil tersenyum.
Sebagai pelaku usaha mikro, Yani menghadapi persoalan yang umum dialami jutaan UMKM di Indonesia. Menjalankan usaha berdasarkan pengalaman dan ingatan. Selama dagangan laku dan uang masih ada untuk membeli bahan baku esok hari, usaha dianggap berjalan baik.
Namun kenyataannya, tidak sedikit pelaku usaha yang kesulitan mengetahui berapa keuntungan sebenarnya yang mereka peroleh. Uang usaha dan uang pribadi bercampur. Pengeluaran kecil yang terjadi setiap hari tidak tercatat.
Akibatnya, usaha sulit berkembang karena tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas
Perubahan mulai dirasakan Yani ketika ia mengenal pembayaran digital melalui AstraPay. Awalnya ia hanya mengikuti saran teman yang lebih dulu menggunakan layanan tersebut.
“Saya pikir hanya untuk menerima pembayaran non-tunai. Ternyata saya jadi bisa melihat transaksi yang masuk setiap hari,” ujarnya.
Dari sana, Yani mulai belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ia mengetahui hari-hari dengan penjualan tertinggi, produk yang paling diminati pelanggan, hingga kebutuhan modal yang harus disiapkan setiap minggu.
Transformasi sederhana itu membuka pemahaman baru bahwa teknologi digital bukan sekadar alat pembayaran, melainkan sarana untuk mengelola usaha secara lebih terukur.
Fenomena yang dialami Yani mencerminkan tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi berkembang pesat. Pembayaran menggunakan QR Code Indonesia Standard (QRIS), dompet digital, mobile banking, hingga berbagai aplikasi keuangan semakin mudah diakses masyarakat.
Namun kemudahan teknologi belum selalu diikuti kemampuan mengelola keuangan secara bijak.
Banyak pelaku usaha yang sudah menerima pembayaran digital tetapi belum memahami pentingnya pencatatan transaksi, pengelolaan arus kas, penyusunan anggaran, hingga perencanaan pengembangan usaha.
Padahal, literasi finansial merupakan fondasi utama agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara optimal.
Literasi finansial tidak hanya berarti mengetahui cara menggunakan aplikasi pembayaran atau membuka rekening secara daring. Lebih dari itu, literasi finansial mencakup kemampuan memahami pemasukan, mengelola pengeluaran, menghindari utang yang tidak produktif, menyusun target keuangan, serta mengambil keputusan ekonomi secara tepat.
Dalam konteks UMKM, kemampuan tersebut menjadi sangat penting karena sebagian besar pelaku usaha mikro beroperasi dengan modal terbatas. Kesalahan kecil dalam mengelola keuangan dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan usaha.
Pengamat ekonomi digital menilai bahwa perkembangan teknologi keuangan saat ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan.
Setiap transaksi digital meninggalkan jejak data yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui data transaksi, pelaku usaha dapat mengetahui tren penjualan, memperkirakan kebutuhan stok barang, menghitung keuntungan secara lebih akurat, hingga mempersiapkan pengembangan usaha di masa depan.
Bagi lembaga keuangan, rekam jejak transaksi yang baik juga dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai kelayakan pelaku usaha ketika mengajukan pembiayaan.
Dengan kata lain, digitalisasi membuka akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan formal.
Meski demikian, tantangan masih cukup besar.
Sebagian masyarakat masih menganggap pencatatan keuangan sebagai hal yang rumit dan memakan waktu. Tidak sedikit pula yang merasa usaha kecil tidak memerlukan pembukuan.
Pandangan tersebut perlahan mulai berubah seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Yani merasakan langsung manfaatnya. Kini ia memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi usahanya dibanding beberapa tahun lalu.
“Sekarang saya tahu berapa pemasukan per hari. Kalau mau beli bahan baku juga bisa dihitung. Jadi tidak asal ambil uang,” katanya.
Perubahan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi usaha mikro, kemampuan mengetahui arus kas secara pasti merupakan langkah besar menuju pengelolaan usaha yang lebih profesional.
Digitalisasi juga membawa dampak lain yang tidak kalah penting, yaitu meningkatkan rasa percaya diri pelaku usaha.
Ketika memiliki catatan transaksi yang jelas, mereka lebih mudah merencanakan pengembangan usaha, menambah produk baru, atau memperluas pasar.
Di sisi lain, konsumen juga memperoleh manfaat berupa kemudahan bertransaksi.
Pembayaran menjadi lebih cepat, praktis, dan aman tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Kombinasi antara teknologi dan literasi finansial inilah yang menjadi salah satu kunci terciptanya ekonomi yang inklusif.
Pemerintah, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, dan berbagai pihak lainnya terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Tujuannya bukan hanya meningkatkan penggunaan layanan digital, tetapi juga memastikan masyarakat mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk memperbaiki kesejahteraan mereka.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari banyaknya aplikasi yang digunakan atau jumlah transaksi elektronik yang tercatat. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika masyarakat mampu mengelola keuangannya dengan lebih baik dan menggunakan teknologi untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih besar.
Menjelang siang, pembeli kembali berdatangan ke gerobak Yani.
Sebagian membayar dengan uang tunai, sebagian lagi memindai kode QR yang tergantung di samping gerobaknya.
Bagi Yani, perubahan itu bukan lagi soal mengikuti perkembangan zaman. Ia kini memahami bahwa setiap transaksi yang tercatat membantu dirinya mengenali usaha yang dibangun dengan kerja keras setiap hari.
“Dulu semuanya kira-kira,” ujarnya.
“Sekarang saya bisa menghitung dengan pasti.”
Dari sebuah warung sederhana di trotoar, pelajaran penting itu muncul: teknologi dapat membuka peluang, tetapi literasi finansial adalah kunci yang membuat peluang tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.
Penulis : Fandi Ahmad Syah
Editor : Bachri Agam







